...
Kadang kuingin seperti dia. Menjadi seorang Mei adalah impianku sejak masuk SMA. Aku terpukau oleh kecantikannya, dari luar maupun dari dalam dirinya. Memang dia tak sepintar aku tetapi sikap dan sifatnya yang feminim sangat jauh di atasku. Sesaat, rasa cemburu mulai merasuki akalku. Sepertinya Meita sangat tidak masuk akal sebagai manusia. Dia terlalu sempura. Namun kutepis rasa itu. Aku sedang berusaha menjadi lebih baik. Mengapa aku harus iri padanya? Semua orang punya kelebihan dan kekurangan. Mungkin aku punya kelebihan yang dia tak punya.
Dibalik semua perubahan yang terjadi di sekelilingku, aku masih penasaran dengan Sassha_missrain. Siapakah gerangan dia? Apakah masih seumuranku, lebih tua dariku, atau mungkin malah jauh lebih muda dariku? Sulit membayangkan bahwa aku telah dinasihati oleh anak kecil jika memang Sassha ternyata jauh lebih muda dariku.
Tak tahu mengapa aku merasa bahwa perkataan Sassha merasuki hatiku, kemudian terus terngiang-ngiang di benakku. Perkataannya kini menjadi pedoman bagiku untuk menentukan arah tujuanku. Semudah itu aku telah mempercayai orang yang baru kukenal beberapa bulan yang lalu? Sepertinya sedikit klise. Namun apakah memang ini telah menjadi takdir dari Tuhan yang dengan mudahnya mempertemukanku dengan Sassha? Ini semua karena blog.
Saat aku sedang menyusuri koridor kelas 10, kulihat ada sebuah buku harian tergeletak di tengah jalan. Tidak ada yang memungutnya, maklum hari sudah mulai sore sehingga jarang murid-murid yang melewati koridor ini. Hanya aku yang kini melewatinya karena tadi aku baru saja mengembalikan buku di perpustakaan yang selantai dengan ruang kelas 10.
Aku memungutnya. Kupikir ini pastilah barang yang berharga bagi pemiliknya. Siapa tahu aku bisa mengembalikannya. Kuambil buku itu dari lantai dan kutaruh di tas ranselku. Aku pun kembali berjalan pulang ke gerbang sekolah.
Malamnya aku mulai memeriksa identitas pemilik buku harian itu. Bukan maksudku membongkar privasi orang, namun agar aku pun tahu siapa pemiliknya dan dapat segera dikembalikan. Aku tak ingin disangka maling.
Saat kubuka halaman pertama buku harian itu, terpampang kalimat yang tidak asing bagiku. Bagaimana tidak, jika aku telah meresapi dan menganggap kalimat itu pedomanku?! Kalimat inilah yang mengejutkanku.
dunia tidak akan menunggumu, dunia akan terus berputar sesuai irama kehidupan yang terus bergulir.
Kalimat Sassha!!! Berarti Sassha adalah siswi SMA 68!!! Belum selesai terkejutanku, kini ditambah lagi sebuah fakta identitas pemilik buku harian itu saat kubuka lembaran berikutnya.
Nama Lengkap : Meita Hwang
TTL : Jakarta, 14 Mei 1994
Alamat : JL. Kebon Manggis Raya No.20 Jaktim
Alamat Blog : www.drowning758493.blogspot.com
Motto : Hidup adalah pilihan!!!^^
Astaga, ternyata Sassha_missrain adalah Meita Hwang, siswi populer ketua kelompok The Angel! Bagaimana bisa dunia sesempit ini? Apakah memang ini kebetulan, atau ternyata memang takdir?
Aku memutuskan untuk mengembalikannya besok. Aku tak peduli apa kata teman-temannya jika aku mendekati Mei dan memberikan buku hariannya ini. Aku hanya ingin memastikan bahwa dia adalah Sassha dan bila dia meresponnya, aku ingin kami bisa berteman secara nyata.
Esoknya saat istirahat siang aku segera mendatangi kelas Mei. Namun yang kulihat hanya teman sekelas Mei yang sedang mengobrol ria dengan temannya. Saat kutanya dimanakah biasanya Mei pergi saat istirahat, mereka mengatakan di kantin.
Segera kususul Mei ke kantin. Setibanya di kantin, aku dengan mudah dapat mengenali Mei diantara teman-teman kelompoknya yang lain. Melihat Mei, aku menjadi minder. Bagaimana jika Mei mengacuhkanku? Aku tidak ada apa-apa dibandingkan dia. Pasti dia meremehkanku dan yang sangat kutakutkan adalah, dia akan menuduhku sebagai pencuri buku hariannya. Pikiran-pikiran negatif itu sempat menciutkan semangatku. Namun aku mulai berpikir jernih kembali. Aku berniat baik. Tuhan pasti melihat usahaku. Apalagi aku sudah melangkah sejauh ini. Akhirnya dengan mantap aku menghampiri Meita.
Melihat kedatanganku, teman-teman yang lain langsung menatapku dengan sinis. Aku hanya dapat menunduk. Sekertika mulutku seperti terkunci. Aku tidak bisa mengatakan apa-apa di depan Meita yang terlihat kebingungan dengan kedatanganku yang tiba-tiba. Namun ketika kuteringat kata-katanya, dan buku hariannya yang saat ini kusembunyikan dibelakangku, aku bertekad untuk berbicara padanya.
“ Meita, ini buku harianmu. Maaf aku sempat membukanya. Aku hanya bermaksud mengembalikannya padamu. Sungguh. “ kata-kata itulah yang meluncur dari mulutku. Dengan sedikit ragu kutatap wajah bersihnya.
“ Ya ampun…buku ini memang sejak kemarin aku cari. Wah,terima kasih ya, Farrah! Kamu baik sekali telah memungutnya dan mengembalikannya padaku! “ seru Meita sambil memamerkan giginya yang putih kepadaku. Aku terheran, mengapa dia bisa seakrab ini kepada orang yang baru dikenalnya, terlebih lagi aku. Mengapa dia tahu namaku dan mengajakku berbicara seperti sudah lama mengenalku, padahal aku sendiri yang sudah setahun ini melihatnya masih canggung jika berbicara dengan jarak sedekat ini.
“ Kamu tahu namaku? “ tanyaku.
“ Tentu saja. Siapa sih yang tidak kenal kamu? Kamu salah satu siswi teladan di sini. Kamu itu tangguh, semangatmu tidak kalah dengan laki-laki. Otakmu cerdas. Gayamu keren. Rasa percaya dirimu tinggi. Aku sendiri kagum padamu! “ selorohnya dengan riang.
“ Tapi kamu kan cantik, anggun, pintar, jago masak, pemimpin geng, lagi. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan kamu. Kamu tidak perlu memujiku seperti itu. “ aku berusaha merendahkan diriku agar tidak dianggap sombong oleh Meita.
“ Semua orang punya kelebihan dan kekurangan, kok, Farrah. Kamu tidak perlu berkata seperti itu. “ katanya lagi. Kini dia menatap buku hariannya yang kini berada di tangannya. Dibukanya lembaran-lembaran itu. “ Aku tahu kamu pasti sudah tahu bahwa aku Sassha_missrain kan? “ ujarnya.
“ Maksudmu? “ Aku semakin terkejut saat Meita mengungkit nama samaran blognya. Baru saja aku ingin menanyakan hal itu pada Meita, batinku. Tunggu, apa Meita sudah tahu bahwa aku ini Felicis_Felicity ? Kalau memang benar, darimana dia bisa tahu?
“ Sudahlah, jangan berpura-pura padaku. Kamu Felicis_Felicity, kan? Jangan Tanya lagi padaku darimana aku tahu. Aku mengetahui alamat blogmu dari biodata siswa. Jujur saja dari kelas 10 aku telah kagum padamu. Tapi aku tidak tahu cara mendekatimu. Apalagi sepertinya kau berusaha menjauh dari orang-orang tidak berguna seperti aku. Makanya, saat aku tahu alamat blogmu, aku berusaha mendekatimu lewat dunia maya. Karena kebetulan sepertinya kau sedang mempunyai masalah, aku berusaha membantumu. Kamu tidak marah kan? “ terang Meita kepadaku. Aku sangat terkejut. Seorang Meita mengagumiku? Sepertinya itu hanya mimpi.
“ Sungguh kamu kagum padaku? “ ucapku lirih bersama sisa terkejutanku atas pernyataan Meita yang mengagetkan itu.
“ Sungguh, Farrah Felisha Kurniawan! Sudahlah, kita berteman ya? Kamu mau kan?” tawar Meita sambil menyodorkan tangannya ke arahku. Aku membalasnya dengan jabatan tangan yang hangat.
Aku bahagia. Ternyata aku bisa bertemu dengan orang seperti Meita. Apalagi berkatnya aku dapat mengubah sifatku menjadi jauh lebih baik daripada dulu. Aku jauh lebih terbuka dengan orang-orang di sekitarku. Aku pun bersyukur dapat berteman dengan Meita. Selain karena dia baik hati, melalui dia aku juga dapat memandang dunia ini dengan lebih baik dan dapat membuka kesempatanku untuk mendapat banyak teman baru meskipun banyak rintangan yang harus aku lewati agar aku dapat mempunyai lebih banyak teman. Sekali lagi, ini semua karena blog.
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Prosa. Tampilkan semua postingan
Semua Karena Blog
0
Diposting oleh
Dreamer's Diary
|
Selasa, 02 November 2010
Hai,aku hari ini berusaha menampilkan cerpen perdanaku selama di kelas 9!!!!Akhir kata,semua menghibur dan suka dengan cerpen ini!!!!
Aku terdiam. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini, pikirku. Tanpa pamit, aku membawa buku paket biologi yang tadi sempat dibawa oleh guru biologiku ke ruang guru yang ada di lantai satu. Tanpa memikirkan sikap Linus yang sama saperti mayoritas anak di sini terhadapku, aku berlari kecil menuruni tangga sampai saat kulihat sekelompok anak yang sedang berbincang serta berpakaian necis dan wangi datang dari arah berlawanan dan melewati diriku tanpa menoleh sedikitpun.
“ Farrah, tolong bawa ini ke ruang guru. “ suara Linus, sang ketua kelas telah membuyarkan lamunanku. Suara tadi bagai sirene otomatis yang berputar di kepalaku, selalu siap menjalankan perintah ketika tenagaku sedang dibutuhkan.
“ Baiklah, Linus. “ aku bangkit dari tempat duduk, menghampiri Linus,pemuda berkacamata yang sedang menyusun buku-buku di lemari buku ruang kelas.
“ Cepat. “ perintahnya dingin. Kali ini dia tidak memandang Farrah sekalipun. Matanya tertuju pada tumpukan buku yang harus dia rapikan sebelum Bu Arinda, guru Bahasa Indonesia datang dan mengajar di kelas.
Aku terdiam. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini, pikirku. Tanpa pamit, aku membawa buku paket biologi yang tadi sempat dibawa oleh guru biologiku ke ruang guru yang ada di lantai satu. Tanpa memikirkan sikap Linus yang sama saperti mayoritas anak di sini terhadapku, aku berlari kecil menuruni tangga sampai saat kulihat sekelompok anak yang sedang berbincang serta berpakaian necis dan wangi datang dari arah berlawanan dan melewati diriku tanpa menoleh sedikitpun.Kapan aku bisa menjadi seperti mereka, mungkin kata-kata itu yang setiap hari terlintas dalam benakku selama dua tahun sejak aku menginjakkan kaki di SMAN 68 ini. Aku terlahir dengan wajah yang biasa-biasa saja, tidak kaya maupun berjabatan tinggi di sekolah. Aku orang yang kuper, mungkin ini terjadi karena aku tidak dapat menerima dengan baik bahwa aku berbeda dengan anak normal lain. Orang tuaku sudah bercerai sejak umurku tujuh tahun. Untunglah masih ada yang dapat aku banggakan dari diriku. Menurut orang-orang, daya tangkapku cepat sehingga aku dapat mengikuti semua pelajaran dengan mudah.
Setelah kejadian di tangga sekolah, aku hanya menjalani aktifitasku di sekolahku seperti biasa, tanpa teman dekat apalagi pacar. Namun hal itu sudah biasa bagiku. Mungkin pada saat tertentu malah menguntungkan. Apalagi aku ingin tetap meningkatkan prestasiku di sekolah tanpa harus terganggu dengan persoalan asmara ataupun persahabatan.
Sepulang sekolah, aku mendapati rumahku yang kosong. Ayah kerja, kakak juga. Pembantu sedang berbelanja di pasar swalayan, otomatis sekarang aku hanya sendirian di rumah. Kemudian aku langsung ke lantai atas,ke kamarku tentunya. Di kamarku yang bernuansa ungu itu, aku menenggelamkan diri dalam duniaku.
Ya, duniaku, dunia maya. Satu-satunya dunia dimana aku bisa berekspresi dengan bebas tanpa harus ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak pernah bergabung menjadi anggota jejaring sosial manapun, bagiku itu pemborosan waktu. Aku lebih suka bergabung dalam forum pengetahuan, membaca di situs berita, ataupun mengurusi blogku yang kubuat sejak kelas tiga SMP itu.
Blog kini telah menjelma menjadi separuh jiwaku. Blog adalah satu-satunya cara agar aku dapat mengekspresikan segala perasaanku, biasanya kutulis dalam bentuk puisi atau prosa singkat. Melalui blog pula aku mulai mendapatkan teman-teman baru yang biasanya rutin berkomentar mengenai tulisan-tulisanku meskipun kebanyakan dari mereka sama sepertiku, menyembunyikan identitas untuk sebuah privasi.
Terkadang aku berpikir, sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Apakah aku akan selamanya sendirian, kesepian, dan hanya merasakan kekosongan dalam hidupku yang tak sepenuhnya merasakan kasih sayang sejak ayah ibu bercerai?
Ketika kulihat komentar-komentar yang terlihat di monitor, aku tertegun dengan komentar yang diutarakan oleh salah satu teman terdekatku di blog. Dia berkata seperti orang bijak saat mengomentari salah satu tulisanku tentang kesedihanku karena aku tidak dapat bergaul dengan yang lain.
Sassha_missrain said: Dunia akan berakhir jika kau terus terdiam, dunia tidak akan menunggumu, dunia akan terus berputar sesuai irama kehidupan yang terus bergulir. Tersenyumlah dan berusaha. Tuhan tidak tertidur. Dia akan melihat usahamu sejauh masih ada harapan dan kesempatan yang terbentang dalam hidupmu.^^
Sassha_missrain, kau tidak tahu betapa menderitanya aku. Kamu tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi diriku, jadi mungkin dengan mudahnya kau dapat berkata seperti itu….
Sejak kemarin aku masih melamunkan perkataan Sassha_missrain. Aku bertanya-tanya sendiri, siapa sebenarnya dia? Aku menjadi penasaran dengan sosoknya.
Namun aku sendiri bertanya pada diriku. Jika perkataan Sassha benar, kapan kesempatan itu akan datang? Aku bukan seorang yang jeli dalam hal seperti ini karena pada dasarnya aku tidak peduli dengan filsafat atau apalah namanya itu. Aku tidak dapat menentukan apakah itu kesempatanku karena aku sendiri tidak mengerti dan benar-benar mengalami kesempatan.
Felicis_felicity said: Tapi aku sendiri bingung menentukan kesempatan. Apakah masih ada kesempatan bagiku? Kapan kesempatan itu akan datang, Sassha?
Mungkin seperti ini sudah cukup, batinku sambil menekan tuts keyboard terakhir. Aku menghela nafas panjang. Aku berpikir mungkin dia dapat membantuku, atau setidaknya mengerti kondisiku.
Aku mulai beranjak dari tempat tidurku. Kutatap segala isi ruanganku, aku tak tahu ingin berbuat apa di hari Sabtu yang membosankan ini. Ayah kerja. Kakak pergi bersama kekasihnya, Kak Cheryl. Kemudian mataku tertuju pada cermin seukuran badanku yang terpampang di sebelah meja belajar. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri cermin tersebut.
Kutatap wajahku sendiri. Hanya sesosok gadis remaja berambut hitam sebahu dan berkacamata yang terlihat, tanpa senyuman. Itu aku. Aku bergidik sendiri setelah benar-benar melihat sosokku yang seperti ini. Aku harus berubah, aku harus berubah menjadi lebih baik.
Hari Senin ini kembali menjadi hari sibuk. Namun bagiku hari ini sedikit berbeda. Aku mulai berubah menjadi lebih baik dengan menyapa teman-teman yang berpapasan denganku dan tersenyum terhadap mereka, dan juga menjadi pribadi yang lebih ceria dan terbuka. Mungkin beluma kan berubah drastis secara keseluruhan tapi semua butuh proses, kan?
Sekali lagi, ini semua karena pemilik akun Sassha_missrain yang misterius itu. Karenanya, aku jadi mulai menyadari dan berusaha menjadi jati diriku yang sebenarnya. Dia pula yang kemarin menyemangatiku dengan kata-kata indahnya yang terukir dalam setiap baris tulisan cantik itu. Aku sekarang tidak peduli lagi dengan pembicaraan negatif tentang diriku jika aku mengubah sikapku kepada mereka karena aku tulus melakukan ini.
Kini tinggal waktu yang menentukan, apakah usahaku akan berhasil atau tidak sama sekali. Namun aku sangat berharap bahwa aku bisa keluar dari kesalahanku yang terlalu menyalahkan keadaan karena seperti kata Sassha, dunia tidak akan menunggumu, dunia akan terus berputar sesuai irama kehidupan yang terus bergulir.
Beberapa bulan kemudian, aku telah dapat menikmati hasil dari apa yang kuperbuat. Orang-orang mulai ramah padaku, kali ini tidak hanya sekadar basa-basi belaka. Menurut mereka aku jadi terlihat manis, tidak menyeramkan dan angkuh seperti dulu. Namun juga ada yang semakin benci padaku, sebut saja kelompok anak populer yang menyebut dirinya “ The Angel “ itu. Mungkin karena sekarang teman-teman lebih respek padaku. Aku sih tidak mau ambil pusing dalam masalah ini. Biarlah kebencian itu terhapuskan oleh waktu. Orang sabar disayang Tuhan.
Tetapi jika aku boleh menyampaikan opiniku, ada hal yang menarik di The Angel. Ketua kelompok itu sifatnya sangat berbeda dengan kedua anggota lainnya. Jika anggota lain suka melabrak dan menggunjingkan orang-orang, dia malah menasihati teman-temannya agar tidak bertindak terlalu jauh.
Ya, namanya Meita Hwang. Jika dilihat dari namanya, dia adalah keturunan Tiongkok. Namun dia adalah seorang muallaf sejak kelas tujuh smp, mengikuti ibunya yang menikah lagi dengan seorang pribumi pasca ayah Mei meninggal karena sakit. Tutur katanya halus. Sifatnya pun cantik, seperti dirinya. Otaknya juga cukup cerdas. Memang dia bukan berasal dari orang tua yang sangat kaya tapi sikap dan sifatnya sangat anggun, seperti putrid bangsawan. Hanya satu kekurangannya, dia adalah orang yang agak cengeng. Namun demikian, kekurangan tersebut tidak serta merta menurunkan popularitasnya sebagai wanita yang paling dikagumi oleh semua orang. Apalagi dia adalah ketua kelompok The Angel, kelompok yang paling disegani oleh warga sekolah, kecuali tentunya para guru. Jadilah nama Mei semakin harum bak bunga Melati yang mekar di pagi hari.
to be continued

