“ Farrah, tolong bawa ini ke ruang guru. “ suara Linus, sang ketua kelas telah membuyarkan lamunanku. Suara tadi bagai sirene otomatis yang berputar di kepalaku, selalu siap menjalankan perintah ketika tenagaku sedang dibutuhkan.
“ Baiklah, Linus. “ aku bangkit dari tempat duduk, menghampiri Linus,pemuda berkacamata yang sedang menyusun buku-buku di lemari buku ruang kelas.
“ Cepat. “ perintahnya dingin. Kali ini dia tidak memandang Farrah sekalipun. Matanya tertuju pada tumpukan buku yang harus dia rapikan sebelum Bu Arinda, guru Bahasa Indonesia datang dan mengajar di kelas.
Aku terdiam. Lebih baik aku cepat-cepat pergi dari sini, pikirku. Tanpa pamit, aku membawa buku paket biologi yang tadi sempat dibawa oleh guru biologiku ke ruang guru yang ada di lantai satu. Tanpa memikirkan sikap Linus yang sama saperti mayoritas anak di sini terhadapku, aku berlari kecil menuruni tangga sampai saat kulihat sekelompok anak yang sedang berbincang serta berpakaian necis dan wangi datang dari arah berlawanan dan melewati diriku tanpa menoleh sedikitpun.Kapan aku bisa menjadi seperti mereka, mungkin kata-kata itu yang setiap hari terlintas dalam benakku selama dua tahun sejak aku menginjakkan kaki di SMAN 68 ini. Aku terlahir dengan wajah yang biasa-biasa saja, tidak kaya maupun berjabatan tinggi di sekolah. Aku orang yang kuper, mungkin ini terjadi karena aku tidak dapat menerima dengan baik bahwa aku berbeda dengan anak normal lain. Orang tuaku sudah bercerai sejak umurku tujuh tahun. Untunglah masih ada yang dapat aku banggakan dari diriku. Menurut orang-orang, daya tangkapku cepat sehingga aku dapat mengikuti semua pelajaran dengan mudah.
Setelah kejadian di tangga sekolah, aku hanya menjalani aktifitasku di sekolahku seperti biasa, tanpa teman dekat apalagi pacar. Namun hal itu sudah biasa bagiku. Mungkin pada saat tertentu malah menguntungkan. Apalagi aku ingin tetap meningkatkan prestasiku di sekolah tanpa harus terganggu dengan persoalan asmara ataupun persahabatan.
Sepulang sekolah, aku mendapati rumahku yang kosong. Ayah kerja, kakak juga. Pembantu sedang berbelanja di pasar swalayan, otomatis sekarang aku hanya sendirian di rumah. Kemudian aku langsung ke lantai atas,ke kamarku tentunya. Di kamarku yang bernuansa ungu itu, aku menenggelamkan diri dalam duniaku.
Ya, duniaku, dunia maya. Satu-satunya dunia dimana aku bisa berekspresi dengan bebas tanpa harus ada yang tahu siapa aku sebenarnya. Aku tidak pernah bergabung menjadi anggota jejaring sosial manapun, bagiku itu pemborosan waktu. Aku lebih suka bergabung dalam forum pengetahuan, membaca di situs berita, ataupun mengurusi blogku yang kubuat sejak kelas tiga SMP itu.
Blog kini telah menjelma menjadi separuh jiwaku. Blog adalah satu-satunya cara agar aku dapat mengekspresikan segala perasaanku, biasanya kutulis dalam bentuk puisi atau prosa singkat. Melalui blog pula aku mulai mendapatkan teman-teman baru yang biasanya rutin berkomentar mengenai tulisan-tulisanku meskipun kebanyakan dari mereka sama sepertiku, menyembunyikan identitas untuk sebuah privasi.
Terkadang aku berpikir, sampai kapan aku harus hidup seperti ini? Apakah aku akan selamanya sendirian, kesepian, dan hanya merasakan kekosongan dalam hidupku yang tak sepenuhnya merasakan kasih sayang sejak ayah ibu bercerai?
Ketika kulihat komentar-komentar yang terlihat di monitor, aku tertegun dengan komentar yang diutarakan oleh salah satu teman terdekatku di blog. Dia berkata seperti orang bijak saat mengomentari salah satu tulisanku tentang kesedihanku karena aku tidak dapat bergaul dengan yang lain.
Sassha_missrain said: Dunia akan berakhir jika kau terus terdiam, dunia tidak akan menunggumu, dunia akan terus berputar sesuai irama kehidupan yang terus bergulir. Tersenyumlah dan berusaha. Tuhan tidak tertidur. Dia akan melihat usahamu sejauh masih ada harapan dan kesempatan yang terbentang dalam hidupmu.^^
Sassha_missrain, kau tidak tahu betapa menderitanya aku. Kamu tidak merasakan bagaimana rasanya menjadi diriku, jadi mungkin dengan mudahnya kau dapat berkata seperti itu….
Sejak kemarin aku masih melamunkan perkataan Sassha_missrain. Aku bertanya-tanya sendiri, siapa sebenarnya dia? Aku menjadi penasaran dengan sosoknya.
Namun aku sendiri bertanya pada diriku. Jika perkataan Sassha benar, kapan kesempatan itu akan datang? Aku bukan seorang yang jeli dalam hal seperti ini karena pada dasarnya aku tidak peduli dengan filsafat atau apalah namanya itu. Aku tidak dapat menentukan apakah itu kesempatanku karena aku sendiri tidak mengerti dan benar-benar mengalami kesempatan.
Felicis_felicity said: Tapi aku sendiri bingung menentukan kesempatan. Apakah masih ada kesempatan bagiku? Kapan kesempatan itu akan datang, Sassha?
Mungkin seperti ini sudah cukup, batinku sambil menekan tuts keyboard terakhir. Aku menghela nafas panjang. Aku berpikir mungkin dia dapat membantuku, atau setidaknya mengerti kondisiku.
Aku mulai beranjak dari tempat tidurku. Kutatap segala isi ruanganku, aku tak tahu ingin berbuat apa di hari Sabtu yang membosankan ini. Ayah kerja. Kakak pergi bersama kekasihnya, Kak Cheryl. Kemudian mataku tertuju pada cermin seukuran badanku yang terpampang di sebelah meja belajar. Tanpa pikir panjang aku langsung menghampiri cermin tersebut.
Kutatap wajahku sendiri. Hanya sesosok gadis remaja berambut hitam sebahu dan berkacamata yang terlihat, tanpa senyuman. Itu aku. Aku bergidik sendiri setelah benar-benar melihat sosokku yang seperti ini. Aku harus berubah, aku harus berubah menjadi lebih baik.
Hari Senin ini kembali menjadi hari sibuk. Namun bagiku hari ini sedikit berbeda. Aku mulai berubah menjadi lebih baik dengan menyapa teman-teman yang berpapasan denganku dan tersenyum terhadap mereka, dan juga menjadi pribadi yang lebih ceria dan terbuka. Mungkin beluma kan berubah drastis secara keseluruhan tapi semua butuh proses, kan?
Sekali lagi, ini semua karena pemilik akun Sassha_missrain yang misterius itu. Karenanya, aku jadi mulai menyadari dan berusaha menjadi jati diriku yang sebenarnya. Dia pula yang kemarin menyemangatiku dengan kata-kata indahnya yang terukir dalam setiap baris tulisan cantik itu. Aku sekarang tidak peduli lagi dengan pembicaraan negatif tentang diriku jika aku mengubah sikapku kepada mereka karena aku tulus melakukan ini.
Kini tinggal waktu yang menentukan, apakah usahaku akan berhasil atau tidak sama sekali. Namun aku sangat berharap bahwa aku bisa keluar dari kesalahanku yang terlalu menyalahkan keadaan karena seperti kata Sassha, dunia tidak akan menunggumu, dunia akan terus berputar sesuai irama kehidupan yang terus bergulir.
Beberapa bulan kemudian, aku telah dapat menikmati hasil dari apa yang kuperbuat. Orang-orang mulai ramah padaku, kali ini tidak hanya sekadar basa-basi belaka. Menurut mereka aku jadi terlihat manis, tidak menyeramkan dan angkuh seperti dulu. Namun juga ada yang semakin benci padaku, sebut saja kelompok anak populer yang menyebut dirinya “ The Angel “ itu. Mungkin karena sekarang teman-teman lebih respek padaku. Aku sih tidak mau ambil pusing dalam masalah ini. Biarlah kebencian itu terhapuskan oleh waktu. Orang sabar disayang Tuhan.
Tetapi jika aku boleh menyampaikan opiniku, ada hal yang menarik di The Angel. Ketua kelompok itu sifatnya sangat berbeda dengan kedua anggota lainnya. Jika anggota lain suka melabrak dan menggunjingkan orang-orang, dia malah menasihati teman-temannya agar tidak bertindak terlalu jauh.
Ya, namanya Meita Hwang. Jika dilihat dari namanya, dia adalah keturunan Tiongkok. Namun dia adalah seorang muallaf sejak kelas tujuh smp, mengikuti ibunya yang menikah lagi dengan seorang pribumi pasca ayah Mei meninggal karena sakit. Tutur katanya halus. Sifatnya pun cantik, seperti dirinya. Otaknya juga cukup cerdas. Memang dia bukan berasal dari orang tua yang sangat kaya tapi sikap dan sifatnya sangat anggun, seperti putrid bangsawan. Hanya satu kekurangannya, dia adalah orang yang agak cengeng. Namun demikian, kekurangan tersebut tidak serta merta menurunkan popularitasnya sebagai wanita yang paling dikagumi oleh semua orang. Apalagi dia adalah ketua kelompok The Angel, kelompok yang paling disegani oleh warga sekolah, kecuali tentunya para guru. Jadilah nama Mei semakin harum bak bunga Melati yang mekar di pagi hari.
to be continued


0 komentar:
Posting Komentar