Sambil menulis surat ini aku berkhayal,
Membayangkan hari dimana pertama kali aku bertemu denganmu
Tatapan tajam, langkah tegap
Suara khas yang membahana, merasuki semua ruang dalam kepalaku
Mendesak dalam kekaguman yang tak terlukiskan
Memutar melodi-melodi indah nan syahdu ketika kau lantunkan kata-kata itu
Meskipun dalam hati kecilku sering bertanya,
Apakah kau memang tak pernah tersenyum?
Hari demi hari berlalu,
Aku melalui hidupku dengan bayangmu
Meskipun pada awalnya ku hanya dapat menunduk ketika langkahmu dengan cepat menyusuri koridor dengan kepercayaan dirimu
Lambat laun aku semakin memberanikan diri untuk menyapa
Meskipun hanya sekedar basa basi yang tak berujung
Meskipun aku hanya dapat melihat sekilas raut wajahmu yang tegas
Meskipun aku hanya dapat menggenggam tanganmu dan memberikan sebuah kecupan disana
Aku mengetahui bahwa kharismamu sebagai seorang bijak tak terbantahkan
Seiring berjalannya waktu, aku menyadari
Bahwa dibalik ketegaranmu dalam mengajarkan berbagai hal yang tak kuketahui
Ada sisi lain yang mungkin terpendam, tak terjamah
Sosok rapuhmu yang kemunculannya bagai Gunung Krakatau yang menyembulkan lahar
Ketika sisi rapuhmu tenggelam, kau hanya dikenang sebagai sebuah kejayaan lampau
Namun jika sisi rapuhmu mencuat, maka akan menjadi buah bibir khalayak ramai
Aku tahu ini sangat berat bagimu
Menutup semua emosi yang sebenarnya sangat wajar bagi seorang manusia demi sebuah penghargaan bagi sosok wibawa itu
Kau tetap tegar, menjalani sebuah tugas Tuhan yang telah dilimpahkan
Tugas dari Tuhan untuk membawa lentera penyejuk
Walaupun kegelapan tak habis menutupi
Menerangi dan menunjukkan jalan bagi domba-domba tersesat sepertiku
Walaupun semua jalan yang kau tunjuk tak selalu dapat kami ikuti
Mengajari dan memeragakan sebuah kebenaran
Meskipun kebenaran itu tertutup debu dan tercemar oleh tangan-tangan kemaksiatan
Ketegaranmu adalah sumber inspirasiku
Contoh bagi segala aspek kehidupan yang kini sedang kujalani
Ketulusanmu adalah pemacuku dalam pembentukan karakter diri
Meniru sikap seorang pendekar bangsa yang berjuang memberantas kebodohan
Sikapmu adalah cerminan bagi diriku
Agar aku dapat menciptakan refleksi dari kepribadianmu, guru
Sungguh, aku sangat mengagumimu sebagai sosok sempurna dalam cerita khayalanku
Kau akan selalu dan semakin kukagumi
Kau akan selalu ada di benakku, tersimpan dalam memori khusus di dalam benakku
Kau akan selalu ada dalam setiap sekat-sekat hatiku karena kaulah yang mengajarkan keberanian, kemandirian, dan kepercayaan diri
Bekal untukku nanti, di masa depan
Mengarungi bahtera-bahtera lain dalam semua skenario yang telah Tuhan rencanakan untukku
Sepucuk surat sederhana ini mungkin tak akan tersampaikan
Mungkin pula tak kan terjamah oleh tanganmu
Mungkin akan terhapus oleh desakan memori padat
Memori yang menuntunmu untuk melupakan hal-hal remeh seperti sebuah perasaan sentimentil
Mungkin bagimu sepucuk surat ini adalah wujud kelemahan seorang murid sepertiku
Mungkin bagimu ini adalah sepucuk surat cinta
Teruntuk seorang kekasih yang terpisah jauh dan menghilang dari pandanganku
Serta hanya dapat mengingat kenangan melodi lemah yang mengalun dalam hatiku
Namun bukan itu yang ingin kusampaikan padamu, guruku
Ini adalah sebuah wujud kekagumanku atas jasa sesosok pendekar hebat bagi diriku,yaitu dirimu


0 komentar:
Posting Komentar